Manajemen Santri dalam Peningkatan Prestasi dan Layanan Santri Dayah Mataqu Ustman Bin Affan Lhokseumawe

 


 Salma, S.Ag 

MTsN 11 Bireuen



         ABSTRAK

Usaha pengaturan terhadap santri/thalabah mulai dari masuk sampai dengan mereka lulus merupakan manajemen dari kesantrian. Santri/Thalabah Ma’had Taalimul Qur’an Ustman Bin Affan (MATAQU) merupakan dayah tahfidhul qur’an dengan  sistem belajar selama 7 tahun. Dengan membuat sistem belajar dengan cara halaqah (kelompok). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pola rekrutmen dan pembinaan santri/thalabah sehingga mereka mampu bersaing dengan pesereta didik lainnya dan memiliki capaian-capaian prestasi, serta pembinaan terhadap santri lama dan perlakuan  terhadap santri aktif dan yang berprestasi  serta  layanan terhadap santri/thalabah. Jenis penelitian adalah kualitatif, yang mana pengumpulan data dilakukan dengan kegiatan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Sumber data penelitian ini adalah para ustadz/ustadzah dan wali kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) perekrutan santri/thalabah baru melalui tahapan promosi, baik di sosial media maupun dengan berkunjung untuk melakukan sosialisasi ke lapangan (sekolah-sekolah), (2) Pembinaan terhadap santri yang diterima dilakukan dengan cara mengadakan pelatihan kepemimpinan. Dayah  MATAQU  mempunyai prestasi yang membanggakan, baru-baru ini mendapatkan juara di tingkat Nasional dibidang tahfidh dan tafsir. Pelayanan terhadap santri/thalabah pihak Dayah dengan memberikan layanan yang diberikan kepada para santri/thalabah itu dimulai dari sebelum santri mendaftar pada pondok ini, berupa pelayanan admisnistrasi seperti pelayanan arahan pendaftaran melalui website. Kemudian untuk pelayanan jasa yang diberikan pihak dayah  memberikan pelayanan berupa tata cara mengikuti proses belajar dan mengikuti kegiatan pesantren.

 

Kata kunci: Santri/Thalabah , Prestasi /reputasi

 

                                                            

ABSTRACT

Efforts to regulate students/thalabah from entering until they graduate are the management of the pesantren. Santri/Thalabah Ma'had Taalimul Qur'an Ustman Bin Affan (MATAQU) is a tahfidhulqur'an dayah with a 7-year learning system. By creating a learning system by way of halaqah (group). This study aims to describe the pattern of recruitment and coaching of students/thalabah so that they are able to compete with other students and have achievements, as well as coaching for old students and treatment of active and outstanding students as well as services for students/thalabah. This type of research is qualitative, in which data collection is carried out by observation, interviews, and documentation studies. The data sources for this research were the ustadz/ustadzah and homeroom teachers. The results showed that: (1) recruiting new students/thalabah through the promotion stage, both on social media and by visiting to conduct outreach to the field (schools), (2) Guidance for accepted students is carried out by conducting leadership training. Dayah MATAQU has a proud achievement, recently winning at the National level in the field of tahfidh and interpretation. Services for the students/thalabah of the Dayah by providing the services provided to the students/thalabah start before the students register at this boarding school, in the form of administration services such as registration referral services through the website. Then for the services provided by the dayah, they provide services in the form of procedures for following the learning process and participating in Islamic boarding school activities.

 

Keywords: Santri/Thalabah, Achievement/reputation

 

 

 

PENDAHULUAN

Makhad/Dayah/ Pasantren merupakan sebuah lembaga  pendidikan Islam yang membuat sistem yang strategis dengan sistem boarding. Sistem yang strategis tersebut mempunyai kecenderungan untuk memberdayakan generasi muda secara baik dan efektif sebagai tempat berpijak untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan yang melandasinya.

Dayah MATAQU merupakan dayah yang mulai menerima santri/thalabah pada tahun 2014.  Dengan sistem pembelajaran selama 7 Tahun yaitu 3 tahun masa belajar di tingkat SMP yang disebut dengan Wustha dan 3 tahun masa belajar di tingkat SMA atau Ulya, dan satu tahun dengan mengajarkan skiil bagi santri/thalabah. Itu merupakan sistem belajar yang pertama. Namun seiring berjalan waktu MATAQU membuat sistem yang berbeda yaitu tiga tahun pertama ditingkat wustha, tahun ke empat  santri/thalabah digembleng dengan pogram bahsa Arab. Ditahun tersebut santri/thalabah bebas pelajaran yang lain kecuali hafalan.

Kemudian MATAQU juga berbenah dengan membuat sistem lagi dengan membuat kelas tamhidi bagi santri/thalabah yang baru.  Jadi ditahun kedua santri/thalabah baru menduduki kelas satu tingkat SMP. Pendidikan merupakan suatu kebutuhan pokok bagi kehidupan manusia. Karena tanpa adanya pendidikan, dapat dikatakan bahwa kehidupan manusia tidak akan terarah. Setiap warga negara berhak untuk mendapatkan pendidikan, baik anak-anak maupun orang dewasa tanpa memandang status sosial. Dalam proses pendidikan, peserta didik memiliki posisi terpenting, karena tanpa adanya peserta didik, pendidikan tidak akan mungkin dapat berjalan. Untuk dapat mencapai sebuah pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pedidikan yang mampu memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Di antaranya adalah manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya.[1]

 

Oleh karena itu, keberadaan peserta didik itu tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan saja, tetapi keberadaan peserta didik juga merupakan bagian untuk menciptakan suatu lembaga pendidikan yang bermutu. Dengan demikian, untuk mencapai suatu keberhasilan pendidikan perlu diadakannya suatu kegiatan rekrutmen peserta didik. Dengan adanya proses manajemen yang baik, maka dayah atau  Pesantren akan lebih mengembangkan  fungsi diniyyah (keagamaan),  fungsi istimaiyah (sosial)  dan  fungsi tarbawiyah (edukasi)  secara  maksimal  yang  dapat  dirasakan  oleh  setiap  pengelola dayah , para Santri dan masyarakat dan juga bagi agama serta bangsa.[2]

Kegiatan rekruitmen peserta didik merupakan salah satu program kegiatan dayah atau pasantren  dan termasuk dalam perencanaan peserta didik dalam lingkup manajemen peserta didik. Rekruitmen peserta didik pada hakikatnya merupakan proses pencarian, menentukan peserta didik yang nantinya akan menjadi peserta didik di lembaga dayah atau pasantren yang bersangkutan. Langkah-langkah kegiatan tersebut adalah pertama, membentuk panitia penerimaan peserta didik baru yang melibatkan semua unsur guru, pegawai TU (Tata Usaha), dan dewan sekolah/ komite sekolah, kedua, pembuatan dan pemasangan pengumuman penerimaan peserta didik baru yang dilakukan secara terbuka, informasi yang harus ada dalam pengumuman tersebut adalah gambaran singkat lembaga, persyaratan pendaftaran siswa baru (syarat umum dan syarat khusus), cara pendaftaran, waktu dan tempat seleksi dan pengumuman hasil seleksi.[3]

Pada hakikatnya, proses rekrutmen akan menentukan peserta didik/thalabah  yang nantinya akan menjadi peserta didik/thalabah  di suatu lembaga madrasah/sekolah/dayah  yang bersangkutan. Rekrutmen peserta didik dalam tinjauan manajemen penyelenggaraan pendidikan formal merupakan suatu kegiatan yang rutin dilakukan oleh setiap sekolah/madrasah/dayah  untuk menghimpunnya, menyeleksi, dan menempatkan calon peserta didik menjadi peserta didik pada jenjang dan jalur pendidikan tertentu.

Ma’had Ta’limul Quran Usman Bi Affan (MATAQU) yang berlokasi di desa Alu Ulim kota Lhokseumawe merupakan dayah  Tahfidhul qur’an.  Model pembelajaran adalah salafi, namun tetap menggunakan menggunakan sebahagian kurikulum nasional  . Dengan adanya Ma’had Ta’limul Quran Usman Bi Affan (MATAQU)  diharapkan dapat meminimalisir pandangan buruk berkaitan dengan perilaku sosial di era sekarang ini.  Berkaitan dengan hal tersebut maka kegiatan yang ada di Ma’had Ta’limul Quran Usman Bi Affan (MATAQU)  disisipkan kegiatan  pembiasaan keagamaan yang berguna bagi kehidupan sosialnya.

Dari paparan beberapa konsep dan teori diatas bahwa perekrutan siswa/thalabah baru dari prosesnya sampai mereka lulus, pembinaan terhadap santri/thalabah  yang lama, perlakuan terhadap santri/thalabah yang aktif dan berprestasi serta reputasinya,  layanan terhadap santri/thalabah merupakan sebuah tuntutan yang harus dilaksankan oleh setiap dayah. Berdasarkan lata rbelakang yang telah diungkapkan diatas maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan yaitu bagaimana (1). Mekanisme perekrutan santri/thalabah  baru; (2) Bagaimana pembinaan terhadap santri lama dan perlakuan  terhadap santri aktif dan yang berprestasi  ; (3) Bagaimana layanan terhadap santri/thalabah

Berdasarkan permasalahan diatas maka dapat dirumuskan tujuan penelitian adalah untuk mengetahui: (1) mekanisme perekrutan santri/thalabah  baru; (2) pembinaan terhadap santri lama (2) perlakuan  terhadap santri aktif dan yang berprestasi  ; (3) layanan terhadap santri/thalabah

Kegunaan secara teori penelitian ini adalah  memberikan manfaat kepada pihak-pihak berikut ini: (1) memberikan kontribusi kepada pihak makhad  tentang bagaimana mekanisme perekrutan santri/thalabah baru, pembinaan terhadap santri lama, juga terhadap santri/thalabah  yang berprestasi serta layanan terhadap santri  (2) sebagai bahan kajian untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut tentang mekanisme perekrutan santri/thalabah baru, pembinaan terhadap santri lama, juga terhadap santri/thalabah  yang berprestasi serta layanan terhadap santri;

 

METODE PENELITIAN

Ruang lingkup penelitian adalah terbatas thalabah/santri (seleksi santri baru, thalabah/santri aktif, thalabah/santri, prestasi/reputasi thalabah/santri, layanan thalabah/santri di ma,had ta’limul qur’an Ustman Bin Affan (MATAQU)  . Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan objek penelitian adalah santri/thalabah Dayah MATAQU. Kemudian yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini adalah. 1. Santri/thalabah baru 2. Santri/thalabah lama/ santri/thalabah yang aktif dan berprestasi 4. Layanan terhadap santri/thalabah. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah berbentuk wawancara itu sebagai data yang primer. Kemudian data yang diambil dengan cara dokumentasi serta laporan-laporan merupakan sebagai data yang sekunder.

Penelitian ini menggunakan (1) pendekatan kualitatif, dengan maksud untuk mendeskripsikan bagaimana mekanisme perekrutan santri/thalabah baru kemudian bagaimanakah pembinaan terhadap santri/thalabah yang lama. Bagaimana penghargaan bagi santri yang aktif dan santri berprestasi serta bagaimana pelayanan makhad terhadap santri/thalabah. (2) kehadiran peneliti adalah sebagai instrumen kunci, sekaligus sebagai pengumpul data, jadi dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument; (3) lokasi penelitian adalah Makhad Taalimul qur’an ustman Bin affan (MATAQU) dari tanggal 01 oktober 2022 sampai dengan tanggal 10  oktober 2022; (4) sumber data dalam penelitian ini adalah Kepala Madrasah, Guru, kepala pengasuhan, santri/thalabah.; (5) prosedur pengumpulan data dengan (a) wawancara mendalam digunakan peneliti untuk mengungkapkan berbagai hal yang diketahui oleh informan dalam kaitannya dengan mekanisme perekrutan santri/thalabah baru, pembinaan terhadap thalabah lama, penghargaan terhadap santri/thalabah aktif dan yang berprestasi juga layanan terhadap santri/thalabah. Hamidi mengemukakan “wawancara mendalam berarti menggali informasi atau data sebanyak-banyaknya dari responden atau informan. (b). observasi partisipan, peneliti menggunakan untuk  membina hubungan baik dengan informan, sehingga peneliti mendapatkan informasi yang tepat, sehingga peneliti seakan-akan  menyelami kehidupan objek pengamatan dan bahkan tidak jarang peneliti kemudian mengambil bagian dalam kehidupan budaya mereka. Menurut Bungin  observasi partisipan adalah “pengumpulan data melalui observasi terhadap obyek pengamatan dengan langsung hidup bersama, merasakan serta berada dalam aktivitas kehidupan obyek pengamatan.[4] (c). dokumentasi, penggunaan teknik ini berkaitan dengan pelacakan data tentang kejadian atau peristiwa yang sudah berlangsung lama.

Teknik analisis data tentang mekanisme perekrutan santri/thalabah baru, pembinaan tehadap santri/thalabah lama, penghargaan terhadap santri/thalabah yang aktif dan berprestasi juga layanan terhadap santri/thalabah itu sendiri dengan cara  yaitu: (1) reduksi data dengan merangkum dan memilih data pokok yang sesuai dengan tujuan penelitian; (2) display data dengan menyusun data tentang sesuai urutan fokus penelitian dan merencanakan kerja selanjutnya, teks data dibuat dalam bentuk naratif; dan (3) verifikasi data yang merupakan tahapan akhir penelitian yaitu dengan interpretasi dan menyimpulkan, untuk melihat apakah tujuan dari penelitian sudah tercapai atau belum.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.           MEKANISME PENERIMAAN SANTRI /THALABAH BARU

1. Strategi Penerimaan Santri

Kata strategi berasal dari kata Yunani Stragos yang artinya “ageneral set of maneuver cried aut over come a enemyduring combat” yaitu semacam ilmunya para jendral untuk memenangkan pertempuran.[5] Sedangkan dalam kamus Belanda-indonesia, strategis berasal kata majemuk, yang artinya siasat perang, istilah strategi tersebut digunakan dalam kemiliteran sebagai usaha untuk mencapai kemenangan, sehingga dalam hal ini perlu taktik serta siasat yang baik dan benar[6]

Penerimaan santri/thalabah  pada pondok pesantren atau dayah pada hakikatnya dalah merupakan proses pencarian, menentukan, dan menarik pelamar yang mampu untuk menjadi santri di pondok pesantren. Selanjutnya Hasibuan mendefinisikan penerimaan peserta didik adalah suatu proses untuk mendorong para calon peserta didik atau para calon peserta didik yang potensial untuk masuk atau mendaftar pada program, kursus, kelas, atau madrasah tertentu. Definisi ini tidak mempersepsi bahwa penerimaan peserta didik adalah proses yang tidak aktif, yaitu proses sekolah menunggu calon peserta didik datang ke sekolah untuk melamar menjadi peserta didik pada sekolah yang bersangkutan. Lebih dari itu, definisi di atas mengungkapkan bahwa proses penerimaan merupakan proses mencari dan bahkan mendorong calon-calon peserta didik untuk menjadi peserta didik pada suatu sekolah.[7]

Strategi yang dilakukan oleh Dayah MATAQU uttuk merekrut santri/thalabah adalah dengan cara :

1.             Dengan cara promosi dayah ke sekolah-sekolah/madrasah yang ada di sekitar dayah dan sekitarnya

2.             Dengan menggunakan media sosial.

3.             Dengan menggunakan formulir pendaftaran yang bisa didaftar secara  secara jarak jauh.

4.             Membuat titik – titik pendaftaran ke kabupaten-kabupaten yang basisnya peserta didik masuk ke dayah.

 

2. Kriteria dan Prosedur Penerimaan santri/thalabah baru

 a. Proses penerimaan

            Proses penerimaan pada dasarnya merupakan usaha sistematis yang di lakukan lembaga untuk menjamin mereka yang lulus atau diterima . Adapun proses penerimaan santri adalah pembentukan panitia penerimaan santri, rapat penentuan santri baru, pembuatan, pemasangan, atau pengiriman pengumuman, pendaftaran calon santri baru, seleksi, penentuan santri baru yang diterima, pengumuman santri baru yang diterima, dan registrasi santri baru yang diterima.[8]

Jumlah santri/thalabah yang diterima di sebuah sekolah/pesantren/dayah merupakan sebuah kebijakan dari sebuah lembaga tersebut dan tidak bias digangu gugat. Kemudian untuk menentukan berapa banyak jumlah santri/thalabah  yang diterima di Dayah MATAQU dengan mempertimbangkan faktor kondisi Dayah. Pertimbangan kondisi Dayah MATAQU meliputi daya tamping kelas, asrama tempat tinggal santri, dan lain sebagainya, karena mempertimbangkan Dayah MATAQU masih dalam tahap pembangunan. Pihak Yayasan mempunyai andil dalam memutuskan jumlah penerimaan atau rekrutmen peserta didik baru di setiap tahun.

Kriteria merupakan patokan-patokan yang menentukan bisa atau tidaknya seorang untuk diterima sebagai peserta didik. Ada tiga macam kriteria penerimaan peserta didik yaitu sebagai berikut:

1) Kriteria acuan patokan (standard criterian referenced), merupakan suatu
penerimaan santri/thalabah baru pihak MATAQU membuat  patokan yang telah
ditentukan sebelumnya. Dalam hal ini MATAQU  membuat patokan bagi calon peserta diidk baru, bagi mereka yang memenuhi patokan yang di buat dayah
maka akan dapat di terima di dayah tersebut, dan bagi mereka yang tidak
memenuhi patokan maka tidak akan diterima.

2) Kriteria acuan norma (norm criterian referenced), yaitu penerimaan santri/thalabah yang didasarkan atas keseluruhan prestasi peserta didik yang mengikuti seleksi. Dalam hal ini sekolah menetapkan kriteria penerimaan berdasarkan prestasi keseluruhan peserta didik baru.

3) Kriteria berdasarkan daya tampung sekolah. Sekolah terlebih dahulu menentukan berapa jumlah daya tampung calon peserta didik yang akan di terima

 Pada masa pendaftaran, pihak makhad baik ustadh maupun ustdzah baik dari pihak pengasuhan  telah  memberikan gambaran tentang model dan metode belajar serta aturan yang berlaku di makhad Talimul qur’an ustman Bin Affan (MATAQU) Lhokseumawe  . Para ustadz dan ustadzah  juga menanyakan keseriusan calon Santri/thalabah untuk belajar serta konsekuensi yang harus diterima oleh calon Santri apabila tidak mengikuti aturan-aturan ma’had.

b. Prosedur penerimaan santri/thalabah baru

            Proses rekrutmen pada dasarnya merupakan usaha sistematis yang dilakukan lembaga untuk menjamin mereka yang lulus atau diterima adalah mereka yang dianggap paling tepat dan sesuai dengan kriteria yang ditentukan dan jumlah yang dibutuhkan. Kebijakan penerimaan peserta didik baru sebenarnya menggunakandasar-dasar manajemen peserta didik. Peserta didik dapat diterima di suatu lembaga pendidikan seperti sekolah, haruslah memenuhi persyaratan- persyaratan sebagaimana yang telah ditentukan. Sungguhpun setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan layanan pendidikan, tidak secara otomatis mereka dapat di terima di suatu lembaga pendidikan seperti sekolah, sebab untuk dapat diterima haruslah terlebih dahulu memenuhi kewajiban-kewajiban yang telah ditentukan.[9]

 Adapun proses rekrutmen peserta didik baru adalah pembentukan panitia penerimaan peserta didik baru, rapat penentuan peserta didik baru, pembuatan, pemasangan, atau pengiriman pengumuman, pendaftaran peserta didik baru, seleksi, penentuan peserta didik yang diterima, pengumuman peserta didik yang diterima, dan registrasi peserta didik yang diterima

Pembentukan kepanitiaan dilakukan dengan memilih anggota panitia. Panitia penerimaan santi/thalabah baru setiap tahunnya selalu bergilir. Panitia rekrutmen santri/thalabah di MATAQU  baru dibagi sesuai dengan bidangnya Masing-masing. Diantaranya ada bidang kesekretariatan dan publikasi, bidang promosi, bidang pendaftaran dan informasi, bidang soal dan ujian, bidang tes mengaji, bidang konsumsi, bidang perlengkapan, bidang asrama, bidang kebersihan, bidang keamanan.

Semua sudah mempunyai bidang masing-masing, namun saat proses rekrutmen peserta didiksantri/thalabah  berlangsung semua ustad-ustazah juga tetap ikut serta dalam proses rekrutmen santri/thalabah  tersebut. Kemudian rapat yang dilakukan dimulai dengan tahap persiapan awal seperti mengadakan rapat terlebih dahulu untuk memilih ketua panitia rekrutmen peserta didik baru. Kemudian dilanjutkan dengan memilih anggota panitia rekrutmen santri/thalabah  baru beserta pembagian tugas, memcetak brosur dan spanduk. Rapat dilakukan dengan unsur yayasan, pengurus dayah, dan kepala sekolah.

Sistem penerimaan santri/thalabah  yang baru mulai tahun ini  dengan menggunakan dua sistem. Sistem yang pertama dengan menggunakan jalur promosi dan jalur seleksi. Yang dimaksud dengan promosi adalah penerimaan peserta didik yang sebelumnya tanpa menggunkan seleksi, yaitu dengan jalur beasiswa.  Dengan cara promosi tersebut pihak Dayah mengunjungi sekolah-sekolah yang menjadi basis dengan cara memberikan gratis uang pendaftaran karena pertimbangan nilai rapor. Yang  kedua dengan jalur proses seleksi adalah  . Cara seleksi ini dapat digolongkan menjadi tiga macam, yaitu seleksi berdasarkan daftar nilai Ujian Akhir Nasional (UAN), seleksi berdasarkan penelusuran minat dan bakat (PMDK), dan seleksi berdasarkan hasil tes masuk.[10]

 

B. SANTRI/THALABAH LAMA DAN BARU

1. Peraturan-peraturan bagi santri/Thalabah lama/baru

Secara sempit santri dapat diartikan sebagai murid yang belajar dalam
lembaga pendidikan agama yang biasa disebut Pondok atau Pesantren.
Sedangkan dalam arti yang luas istilah
santri mengacu pada anggota masyarakat jawa yang memegang erat dan teguh ajaran-ajaran Islam, seperti
shalat berjama’ah ke masjid, serta amalan-amalan shaleh lainnya.[11]

Santri lama atau thalabah baru mempunyai kesempatan yang sama untuk melakukan semua peraturan peraturan yang dilakukan di ma’had. Salah satunya melaksanakan kegiatan atau peraturan-peraturan yang ada di ma’had. Kegiatan dimulai mereka bangun jam 3 pagi utuk melaksanakan shalat tahajjud kemudian dilanjutkan dengan masuk ke halaqah-halaqah yang sudah di tentukan. Santri lama berkewajiban terhadap santri/thalabah yang baru dengan cara pemilihan kakak kelas yang bertanggung jawab untuk mengontrol adik-adik kelas, dengan cara satu kamar mempunyai satu kakak kelas yang bertugas mengontrol santri/thalabah baru.

            Untuk mendidik santri/thalabah di bidang keberanian  maka semua thalabah diharuskan membuat teks pidato dan berpidato didepan kawan –kawan dan ustdzah setelah shalat magrib, baik dalam bahasa indonesia maupun bahasa arab.Pendidikan tersebut merupakan pendidikan yang menumbuhkan sikap berani atau membina karakter. Santri di dalam pesantren/Dayah  merupakan objek pembentukan karakter. Inilah aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh santri/thalabah baik yang sudah lama maupun yang baru. Peraturan seperti ini menunjukkan salahsatu dari cara untuk menunjukkan kedisiplinan santri/thalabah.Tujuan santri sendiri ialah mengikuti gurunya dan belajar mengenai suatu keahlian.[12]

            Sebagai objek pembentukan karakter, santri di pesantren di diajarkan untuk memahami, mendalami, menghayati serta mengaplikasikan tuntunan agama Islam dan penekanannya ada pada bidang akhlak yang dijadikan pedoman dalam berperilaku pada keseharian santri.[13] Begitu juga di dayah MATAQU santri/thalabah di didik untuk mempunyai watak dan karakter yang baik melalui pemahamamn aturan dalam agama yang diimplikasikan dalam kehidupan nyata. Ketika aturan yang sudah dibuat tersebut dilanggar maka mereka akan bertanggung jawab.

 

2. Pembentukan Kedisipinan santri/thalabah lama/baru

Pembentukan karakter santri/thalabah baik yang lama maupun yang baru dengan menanamkan sikap disiplin. Sikap disiplin tersebut  merupakan sesuatu yang sangat urgen untuk membentuk kepribadian santri/thalabah. Sikap disiplin juga melatih bagaimana santri/thalabah mengatur dirinya sendiri dan bisa berdampak kepada bagaimana mengatur orang lain nantinya dalam lingkup yang besar. Kedisiplinan bisa digolongkan dengan dekat dengan kata-kata kesuksesan. Kedisiplinan adalah kepatuhan seseorang dalam mengikuti peraturan atau tata tertib karena didorong oleh adanya kesadaran yang ada pada hatinya.[14]

Moch.Sochib berpendapat, “pribadi yang memiliki dasar dan mampu mengembangkan disiplin diri berarti memiliki keteraturan diri berdasarkan acuan nilai moral”.[15] Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa  seseorang untuk dapat keteraturan didalam hidupnya maka perlu tertanam pada dirinya jiwa kedisiplinan. Kedisiplinan itu hadir dengan  cara pembiasaan-pembiasaan dan aturan-aturan yang diindahkan.

Untuk mendidik santri/thalabah dalam bidang kedisiplinan santri melalui  kegiatan-kegiatan yang memiliki primer dengan memperhatikan kesehatan santri mulai dari bangun pagi, beribadah, olahraga, sekolah, waktu makan dan juga waktu tidur. Semua kegiatan ini dijalankan sesuai dengan porsi terukur dengan kemampuan santri/ thalabah. Dayah MATAQU melatih kedisiplinan juga melalui hukuman, yaitu hukuman sesuai dengan keadaan siswa. Misalnya ketika mereka melanggar aturan Dayah maka mereka dihukum dengan menghentikan hafalannya selama ketentuan yang diberikan. Kemudian ketika santri/thalabah ketika waktu kepulangan ke Dayah tidak sesuia dengan waktu yang telah ditentukan dan tidak ada alasan yang syar’i maka hukumannya harus membawa  satu hari dengan satu sak semen. Ini merupakan sikap yang otoriter untuk menumbuhkan kedisiplinan di dayah MATAQU. Ta’zir dilakukan oleh orang yang memegang hak didalamnya karena berkenaan dengan pendidikan akhlak yaitu orang tua melakukan ta’zir kepada anaknya, guru kepada siswanya, suami kepada istrinya .[16]

Dayah MATAQU dibagi tiga ustazd/ustdzah, yang pertama ustazd/ustadzah sebagai wali kelas, sebagai wali halaqah dan seabagai wali pengasuhan . Dari ketiga wali tersebut akan mendapat laporan hasil pendidikan selama enam bulan  melalui rapor nantinya. Dari ketiga wali tersebut mempunyai pola pengasuhan dan pola pengajaran yang otoriter. Maksud otoriter disini melalui ketatnya kontrol pesantren/dayah  terhadap keseharian santri yaitu kewajiban dalam menjalankan ajaran agama dan juga tugasnya yang masih dalam usia belajar, harus shalat lima waktu secara berjamaah ke mesjid, setelah magrib semua santri/thalabah masuk halaqah dan pintu kamar dikunci.

Kedisiplinan dalam perspektif islam sudah diatur sedemikian rupa dan tertata denga  rapi dalam ayat-ayat alqur’an yaitu melalui peraturan-peraturan ilahiyah. Kedisipilan tersebut misalnya dalam menjalankan kepatuhan dan kewajiban kita kepada Allah SWT yaitu dengan kewajiban shalat lima waktu sehari semalam. Dayah MATAQU mempunyai peraturan tentang kewajiban shalat lima waktu harus berjamaah di masjid. Dengan aturan aturan tersebut sudah barang tentu akan timbul kesadaran, penguasaan diri dan rasa tanggung jawab.

 

B. KEAKTIFAN SANTRI /THALABAH

Sekolah/ Pasantren/Dayah  sebagai tempat guru / ustadz/ustadzah mengembangkan kemampuan, keterampilan dan membentuk sikap santri/ thalabah serta peradaban bangsa yang lebih baik adalah diantara tujuan pendidikan nasional Indonesia. [17]Dalam perkembangan zaman yang sangat pesat terutama dibidang sain dan tekhnologi  maka ketiga nilai sikap tersebut sangat diperlukan untuk generasi muda karena untuk membentengi dirinya terhadap ancaman yang datang dari segala penjuru. 

Strategi untuk dapat memperoleh sikap yang diinginkan pada generasi muda terutama di Dayah MATAQU dengan menekankan kepada keaktifan santri/thalabah dalam menuntut ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu yang umum. Sumber daya manusia yang memiliki kemampuan kognisi yang cemerlang, serta ditunjang oleh sikap ("Pembelajaran Nilai-Kerakter," 2011) dan keaktifan yang memuaskan adalah merupakan penentu kesuksesan seseorang dalam dunia pekerjaan.[18]

Ma’had taalimul qur’an usman Bin Affan sudah berdiri selama 7 tahun dan sudah mempunyai lima ratus lima puluh  santri/thalabah baik di tingkat wustha dan di tingkat ulya. Di makhad MATAQU santri/ thalabah di tuntut untuk aktif semua mulai dari bangun pagi jam 3 pagi dilanjutkan dengan shalat tahajjud. Setelah mereka shalat tahajuud mereka segera menghampiri guru-guru halaqah mereka untuk menyetor- hafalan hafalannya.

Pelaksanaan proses belajar-mengajar para santri/thalabah  menggunakan sistem halaqah (kelompok). Sistem halaqah merupakan sistem proses belajar mengajar yang di laksanakan murid-murid dengan melingkari guru yang akan mengajarkan. Seperti halnya yang di lakukan oleh walisongo bahwa sistem halaqah ini metode yang di dalamnya terdapat seorang kiyai yang membaca kitab dalam waktu tertentu. Kemudian santri membawa kitab dan mendengarkan serta menyimak bacaan kiyai yang bisa di katakan sebagai proses belajar mengaji secara kolektif. Dan dengan sendirinya santri/thalabah mempunyai guru halaqah, selain guru halaqah juga mempunyai wali kelas dan wali pengasuhan. Adapun materi ajar yang dipelajari terdiri dari pelajaran agama dan pelajaran umum sesuai kurikulum nasional, namun tidak semua pelajaran umum tersebut diajarkan.

Pogram Dayah MATAQU untuk menambah keaktifan santri/ thalabah dibuat pogram ekstrakurikuler. Ekstrakurikuler dibagi menjadi dua macam. Yang pertama pogram ekstrakulikuler pada saat aktif proses belajar mengajar contohnya yaitu kegiatan  karate, kegiatan  berenang dan kegiatan memanah. Sedangkan yang  yang kedua pogram ekstrakurikuler pada saat proses pembelajaran tidak aktif misalnya selesai melaksankan ujian sumatif. Contohnya dengan membuat aneka perlombaan dengan berbagai katagori.  Dengan sendirinya kegiatan ekstrakurikuler tersebut akan menggugah keaktifan santri/thalabah dan dapat menunjang pogram intrakurikuler yang mengambangkan pengetahuan dan kemampuan penalaran siswa, keterampilan melalui hobi dan minatnya serta

 

D.                SANTRI/THALABAH BERPRESTASI/REPUTASI

Prestasi dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) memiliki arti sebuah hasil capaian dari apa yang telah dilakukan, dikerjakan dan diusahakan. Prestasi juga dapat diartikan sebagai hasil dari aktivitas belajar yang telah dilakukan. Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie, kemuadian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha.

Syah menjelaskan prestasi belajar adalah keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan program.[19] Untuk menilai hasil belajar yang diperoleh santri/thalabah menurut kriteria yang telah ditentukan atau disepakati oleh pihak makhad atau dayah  merupakan sebuah prestasi belajar   Kalau kita berbicara prestasi yang didapatkan oleh makhad MATAQU, maka bisa dikatagorikan prestasinya tinggi. Belajar menghafal quran secara terpola dan sistematis di MATAQU sedang tumbuh pesat, kehadiran dayah MATAQU ini telah membangkitkan semangat anak anak dan orang tua untuk menjadi penghafal quran. Bagi santri/ thalabah  yang mampu menghafal quran selalu diadakan perlombaan setiap akhir semester dan  sudah disediakan sejumlah hadiah dan setifikat.

Sedikitnya lima santri Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan, yang bermarkas di Desa Alue Liem, Kecamatan Blang Mangat, Kota  Lhokseumawe mewakili Aceh mengikuti Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist (STQH) Tingkat Nasional XXVI di Kota Sofifi, Provinsi Maluku Utara.

Namun Dayah MATAQU bukan saja berprestasi di kalangan sendiri Namun mereka mampu bersaing di tingkat kabupaten, Provinsi  bahkan ke tingkat nasional. Ini dibuktikan dengan sedikitnya lima santri Dayah Ma’had Ta’limul Qur’an (Mataqu) Ustman Bin Affan, yang bermarkas di Desa Alue Liem, Kecamatan Blang Mangat, Kota  Lhokseumawe mewakili Aceh mengikuti Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadist (STQH) Tingkat Nasional XXVI di Kota Sofifi, Provinsi Maluku Utara.[20]  Prestasi tersebut merupakan prestasi yang didapatkan pada tahun 2021.  Pimpinan Dayah Mataqu Lhokseumawe, Ustaz Azhar Ibrahim, mengatakan lima santri Mataqu yang menjadi peserta STQHN adalah Aisyah Izzatul Muslimah, peserta Cabang Musabaqah Tafsiril Qur'an dengan bahasa Arab; Akrim Dzaki, peserta Cabang Musabaqah  Hafal 500 hadist putra.[21]

Pada tahun 2022 MATAQU kembali menoreh prestasi di ajang MTQ di tingkat Kabupaten. Dan sejumlah santri/thalabah MATAQU yang mengisi di berbagai mata lomba. Menurut Ustaz Azhar, 22 santri Dayah Mataqu menjadi peserta MTQ Aceh XXXV di Kabupaten Bener Meriah. Dari jumlah itu, 10 santri Mataqu mewakili Kota Lhokseumawe, dan 12 santri Mataqu mewakili beberapa kabupaten/kota lainnya di Aceh.“Cabang-cabang yang diraih oleh santri Dayah Mataqu merupakan cabang tersulit. Karena pada cabang Tafsir Alquran ini peserta harus hafal Alquran 30 juz secara baik, dan harus mampu berbahasa bahasa Arab dengan baik,” ujar Ustaz Azhar.[22]

Selain itu, kata Ustaz Azhar, umur peserta juga tidak boleh lebih dari 21 tahun pada MTQ tingkat nasional yang akan diadakan di Kota Banjarmasin nantinya pada tahun ini. Dan sekarang sedang berlangsung MTQ di tingkat  Nasional. Dan kontingen yang mewakili aceh di ajang MTQ nasional santri/thalabah MATAQU berhasil meraih juara 3 dari cabang hafalan 30 juz dan harapan satu dari cabangH

Bukan prestasi iitu saja dayah MATAQU juga sudah melahirkan dua alumni  dua alumni penghafal qur’an. Pada dayah tahfizul quran, para santri/thalabah pada tahun pertama melaukan kegiatan kegiatan Tasmi’ Akbar Hafalan, di Masjid Baiturrahman Kota Lhokseumawe. Sedangkan yang sisanya, 15 santri mampu menghafal 10 sampai dengan 20 juz. Hafalan tersebut adalah sebagai salah satu syarat bagi santri tingkatan pendidikan Ulya (Aliyah)/ SLTA untuk menyelesaikan pendidikan.

“Tujuan Pelaksanaan kegiatatan Tasmi Akbar untuk  pensyahadahan (mempersaksikan) kepada khalayak umum akan hafalan yang sudah dimiliki oleh para santri sebelum dilakukan pengukuhan,” ujar Direktur Pendidikan Dayah Mataqu Zakaria Yahya, LC,dalam siaran yang diterima.[23] Disebutkan, peserta yang telah dikuatkan hafalannya yang 30 Juz dituntut untuk dapat memperdengankan (tasmi’) tanpa memegang dan melihat mushab (Al-qur’an) di depan para ustadz penilai dan walisantri. Selain itu juga dihadiri masyarakat yang menyimak hafalannya. Selain itu kegiatan ini kegiatan ini ditujukan untuk meningkat percaya diri santri dan juga syiar untuk menumbuhkan minat generasi muda untuk cinta terhadap Al- Qur’an. Agenda Tasmiq Akbar ini kata Zakaria, menjadi kegiatan rutin setiap tahun dari Dayah Mataqu yang fokus menngkaji bidang Al- Qur’an diantaranya menghafal Alqur’an.

Kegiatan ini menjadi salah satu syarat kelulusan santri adalah mampu mentasmi’ (memperdengakannya) hafalan mereka untuk sekali duduk sebanyak 30 juz. Kegiatan ini juga menjadi agenda wajib dan bagi santri yang sudah menghafal Al-Qur’an 30 peserta mendapatkan ijazah Al-qur,an.“Ini sebagai bukti bahwa tidak ada istilah mustahil untuk dapat menghafal Al-Qur’an,” kata Ustad Zakaria.

 

E.            PELAYANAN TERHADAP SANTRI/THALABAH

Pelayanan yang baik akan mengahasilkan sebuah kepuasan bagi konsumen, konsumen disini merupakan santri/thalabah yang berada dibawah pimpinan dayah MATAQU. Sumarwan menerangkan teori kepuasan dan ketidak puasan konsumen terbentuk dari model diskonfirmasi ekspektasi, yaitu menjelaskan bahwa kepuasan atau ketidakpuasaan konsumen merupakan dampak dari perbandingan antara harapan konsumen sebelum pembelian dengan sesungguhnya yang diperoleh konsumen dari produk atau jasa tersebut.[24]

Menurut Harbani pelayanan pada dasarnya dapat diartikan sebagai “aktivitas seseorang, sekelompok atau organisasi baik langsung maupun tidak langsung untuk memenuhi kebutuhan”.[25]Kebutuhan para santri/thalabah membutuhkan pelayanan dari pihak MATAQU sehingga dengan sendirinya membutuhkan tuntutan kehandalan para ustadz dan ustadzah dalam memberikan pelayanan yang cepat, tepat, mudah dan lancar sehingga menjadi sebuah  syarat untuk memberi penilaian bagi orang yang dilayani dalam memperlihatkan aktualisasi kerja para ustadz serta ustadzahnya dalam memahami lingkup dan uraian kerja yang menjadi perhatian dan fokus dari setiap yang bertugas dalam  memberikan pelayanannya. Wali santri dan masyarakat selalu menuntut untuk mendapatkan pelayanan bagus dan yang berkualitas dari pihak Dayah, meskipun tuntutan tersebut ada yang mampu mereka penuhi maupun ada juga yang tertunda atau ditangguhkan. Adakala tuntutan dari wali santri  tidak mampu untuk mengabulkannnya sehingga harapan dari pihak wali tidak terkabulkan, dikarenakan pihak tidak mampu mengabulkannya.

Pelayanan yang bagus untuk santri/thalabah akan dapat terwujud maka diperlukan sebuah manajemen layanan, manajamen layanan di khususkan kepada seluruh ustadz dan ustdhah, baik yang tupoksinya  sebagai wali kelas, ustdhah halaqah, ustadzah pengasuhan. Ustadzah  sebagai pendidik ataupun pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha pendidikan. Itulah sebabnya setiap perbincangan mengenai pembaruan kurikulum, pengadaan alat-alat belajar sampai pada kriteria sumber daya manusia yang dihasilkan oleh usaha pendidikan, selalu bermuara pada guru.

Berpijak dari pendapat diatas maka dayah MATAQU Lhokseumawe layanan yang diberikan kepada para santri/thalabah itu dimulai dari sebelum santri mendaftar pada pondok ini, berupa pelayanan admisnistrasi seperti pelayanan arahan pendaftaran melalui website. Kemudian untuk pelayanan jasa yang diberikan pihak dayah  memberikan pelayanan berupa tatacara mengikuti proses belajar dan mengikuti kegiatan pesantren. Kemudian pelayanan diberikan lebih khusus kepada santri yang melanggar aturan pesantren.

Kemudian pihak pondok memberikan pelayanan berupa telepon keluarga yang diberikan jika santri membutuhkan. Pelayanan yang diberikan oleh dayah kepada santri cukup maksimal kepada para santri terlepas dari pelayanan yang berhubungan dengan barang dan administrasi dayah MATAQU berupa kebutuhan pondok itu sendiri. Pelayanan jasa yang diberikan juga sangat luar biasa responnya, seperti ketika ada salah satu dari santri ada yang sakit maka langsung pihak dayah  memberikan pelayanan kesehatan berupa pemberian obatobatan namun jikalau sakit tak kunjung sembuh esoknya maka akan diantar kan langsung ke klinik atau puskesmas terdekat. Pelayanan yang bagus dengan sendirinya akan mendapatkan sebuah kepuasan bagi pihak santri maupun bagi pihak orang tua. Menurut Zulian kepuasan ialah hasil evaluasi pelanggan setelah membandingkan apa yang dirasakan dan dengan harapannya.[26]

 Pengelolaan terkait adanya pelayanan yang diberikan baik kepada para santri, wali murid alumni, ataupun masyarakat dikatakan untuk sesuai standar manajemen yang baik dikatakan juga belum baik, tetapi selaku pihak pemberi pelayanan apalagi yang dengan latar belakang pesantren maka selalu berusaha memanajen hal-hal terkait pelayanan dengan sebaik mungkin. Pengelolaan pelayanan jasa yang berhubungan langsung dengan santri seperti adanya pelayanan khusus terhadap santri yang melanggar aturan mulai dari pelanggaran yang  ringan sampai pelanggaran yang berat. Apabila diketahui adanya santri yang melanggar maka pondok akan memberikan tindakan mulai dari teguran, nasehat, surat peringatan, sampai diserahkan langsung kepada pimpinan dayah. Kemudian pihak dayah  juga memberikan pelayanan jasa berupa telepon keluarga setiap hari minggu dibagi jadwal kamar berapa serta jadwalnya. mereka ada keperluan terhadap keluarganya.

Pihak pemberian dan penerima layanan juga tidak memiliki dinding pemisah antara mereka hanya saja dalam tindakannya mereka harus lebih mementingkan etika kepada para ustadz/ustadzahnya. Kalau pelayanan dari segi konsumsi  terhadap para santri masih kurang dilihat dari segi pelayanan dari segi menu makanan masih kurang, kadang-kadang menu yang mereka sajikan kepada pihak santri/thalabah ada yang tidak menyukainya dan santri/thalabah memilih untuk tidak makan atau makan cuma sedikit. Kemudian tempat penyajian makanan masih belum bisa dikatakan  standar, mungkin dipengaruhi oleh tempat  yang belum rampung karena masih tahap membangun. Kotler menyatakan bahwa kualitas pelayanan adalah kegiatan yang ditawarkan satu pihak kepada pihak lain yang bersifat tidak berwujud.[27]

Beberapa cara untuk melihat tingkat kepuasan ialah kualitas makanan, pelayanan, emosional, biaya dan harga. Pelayanan yang merekan berikan terhadap santri/thalabah yang terdiri dari thalabah wustha ikhwan dan akhwat dan thalabah ulya ikhwan dan akhwat dari segi tempat tidur sudah bagus dan bersih, kamar mempunyai AC, serta lemari pakain yang memadai. Pelayanan terhadap wali santri ketika mempunyai keperluan untuk dihubungi di luar jam kunjungan, maka difasilitasi dengan bapak satpam.

Ketika di hari libur santri/thalabah ingin menyalur bakat dan minatnya maka santri/thalabah bermain basket, sepak bola, badminton di lapangan atau di halaman dayah MATAQU tersebut. Pada saat MATAQU masih di komplex arun maka untuk acara ekstra kulikuler santri/j diarahkan dengan latihan memanah dan berenang. Namun karena kondisi di saat MATAQU belum normal karena masih sedang pembangunan kegiatan tersebut belum terealisasi

 

KESIMPULAN

  Berdasarkan hasil wawancara dengan ustadz/ustadzah dartinya peraturan tidak boleh ada pelanggran, ketika pelanggaran dilakukan maka segala konsekwensi akan diterima baik oles santri maupun pihak orang tua.

1.      MATAQU mempunyai reputasi dan prestasi yang baik di wilayah Lhokseumawe maupun Kabupaten serta nasional.

2.      Perlakuan terhadap santri/thalabah yang berprestasi menjadi perhatian khusus bagi pengelola dayah MATAQU.

3.       Pelayanan Dayah MATAQU sudah tergolong  bagus  walaupun masih ada kendala dibagian pengasuhan.

Terimakasih terbesar untuk Ustadz Dr. Agus Salim Salabi, M.A.  yang telah membantu, mensupport sehingga artikel ini rampung. Kemudian ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada pihak dayah MATAQU yang telah memberikan informasi – informasi berkenaan denga keperluan artikel ini.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Adreansyah, Muhammad. “Strategi Penerimaan SantriDi Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Lampung Utara,” 2022, 1–48.

Ambarwati, Ina. “Pola Asuh Dan Pembentukan Karakter Santri Di Pondok Pesantren.” JIGC (Journal of Islamic Guidance and Counseling) 2, no. 1 (2018): 22–44. https://doi.org/10.30631/jigc.v2i1.11.

“Berita Mataqu,” n.d.

Dan, Makanan, Tingkat Kepuasan, Santri Di, Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan, Universitas Esa Unggul, Program Studi, Pendidikan Profesi, and Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan. “PESANTREN PERKOTAAN DAN PERDESAAN and Rural Boarding School ) Islam Yang Mencetak Ahli Agama Islam ( Tafaqquh Pelayanan Yang Bersifat Tidak Berwujud ( Lupiyoadi ,.” Ekonomica Sharia: Jurnal … 5, no. 2 (2021): 155–63.

“Empat Santri Angkatan Pertama Dayah Mataqu Lhokseumawe Berhasil Hafal 30 Juz Alquran - Halaman All - Serambinews,” n.d.

Ilmu, Fakultas Tarbiyah, Prodi Pai, and Jurnal At-tafkir Vol. “Penulis Adalah Dosen Fakultas Tarbiyah Ilmu Dan Keguruan (FTIK) Prodi PAI ” X, no. 2 (2017): 100–111.

Intani, Citra Putri, and Ifdil Ifdil. “Hubungan Kontrol Diri Dengan Prestasi Belajar Siswa.” Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia 4, no. 2 (2018): 65. https://doi.org/10.29210/120182191.

Kurniasari, Avianti. “Jurnal Studi Islam Dan Kemuhammadiyahan Manajemen Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren” 2, no. 1 (2022): 20–27.

Manajemen, Program Studi, Fakultas Ekonomi, D A N Bisnis, and Universitas Muhammadiyah Magelang. “Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Santri Di Pondok Pesantren Tidar Kota Magelang,” 2018.

Permana, Widya Astuti. “Manajemen Rekrutmen Peserta Didik Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan .” Jurnal Isema: Islamic Educational Management 5, no. 1 (2020): 83–96. https://doi.org/10.15575/isema.v5i1.5989.

Ronoili, Ronoili, Marjoni Imamora, and Novia Lizelwati. “Penerapan Metode Gallery Walk Terhadap Pembentukan Sikap Dan Keaktifan Santri Pondok Pesantren Darussalam Sitiung 1 Kab. Dharmasraya.” Sainstek: Jurnal Sains Dan Teknologi 11, no. 2 (2019): 46. https://doi.org/10.31958/js.v11i2.1832.

Saputra, Andika. “Manajemen Pelayanan Administrasi Di Dayah Modern Arun Kota Lhokseumawe.” Idarah (Jurnal Pendidikan Dan Kependidikan) 3, no. 1 (2019): 52–65.

“Sembilan Santri Dayah Mataqu Lhokseumawe Raih Juara MTQ Aceh Di Bener Meriah,” n.d.

Wabula, Dwi Cahyanti, Nurul Wahyuning Tyas, and Agus Miftakus Surur. “Peran Pengurus Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Kedisiplinan Santri.” Jurnal Al-Makrifat 3, no. 2 (2018): 12–30.

 

 

 



[1] Fakultas Tarbiyah Ilmu, Prodi Pai, and Jurnal At-tafkir Vol, “Penulis Adalah Dosen Fakultas Tarbiyah Ilmu Dan Keguruan (FTIK) Prodi PAI ” X, no. 2 (2017): 100–111.

[2] Avianti Kurniasari, “Jurnal Studi Islam Dan Kemuhammadiyahan Manajemen Pembelajaran Kitab Kuning Di Pondok Pesantren” 2, no. 1 (2022): 20–27.

[3] Widya Astuti Permana, “Manajemen Rekrutmen Peserta Didik Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan ,” Jurnal Isema: Islamic Educational Management 5, no. 1 (2020): 83–96, https://doi.org/10.15575/isema.v5i1.5989.

.

[5] Muhammad Adreansyah, “Strategi Penerimaan SantriDi Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Lampung Utara,” 2022, 1–48.

[6] Adreansyah.

[7] Adreansyah.

[8] Adreansyah.

[9] Permana, “Manajemen Rekrutmen Peserta Didik Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan .”

[10] Permana.

[11] Nasrullah Nurdin, Generasi Emas Santri Zaman Now, (Jakarta: PT Elex MediaKomputindo, 2019), hlm. 4.

[12] Ina Ambarwati, “Pola Asuh Dan Pembentukan Karakter Santri Di Pondok Pesantren,” JIGC (Journal of Islamic Guidance and Counseling) 2, no. 1 (2018): 22–44, https://doi.org/10.30631/jigc.v2i1.11.

[13] Ambarwati.

[14] Dwi Cahyanti Wabula, Nurul Wahyuning Tyas, and Agus Miftakus Surur, “Peran Pengurus Pondok Pesantren Dalam Menanamkan Kedisiplinan Santri,” Jurnal Al-Makrifat 3, no. 2 (2018): 12–30.

[15] Permana, “Manajemen Rekrutmen Peserta Didik Dalam Meningkatkan Mutu Lulusan .”

[16] Sabiq, Z. (2021). Konseling Pesantren: Bintang pustaka. Bintang Pustaka Madani

[17] Ronoili Ronoili, Marjoni Imamora, and Novia Lizelwati, “Penerapan Metode Gallery Walk Terhadap Pembentukan Sikap Dan Keaktifan Santri Pondok Pesantren Darussalam Sitiung 1 Kab. Dharmasraya,” Sainstek: Jurnal Sains Dan Teknologi 11, no. 2 (2019): 46, https://doi.org/10.31958/js.v11i2.1832.

[18] Ronoili, Imamora, and Lizelwati.

[19] Citra Putri Intani and Ifdil Ifdil, “Hubungan Kontrol Diri Dengan Prestasi Belajar Siswa,” Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia 4, no. 2 (2018): 65, https://doi.org/10.29210/120182191.

`               [20] “Berita Mataqu,” n.d.

[21] ibid

[22] “Sembilan Santri Dayah Mataqu Lhokseumawe Raih Juara MTQ Aceh Di Bener Meriah,” n.d.

[23] “Empat Santri Angkatan Pertama Dayah Mataqu Lhokseumawe Berhasil Hafal 30 Juz Alquran - Halaman All - Serambinews,” n.d.

[24] Program Studi Manajemen et al., “Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Santri Di Pondok Pesantren Tidar Kota Magelanjg,” 2018.

[25] Andika Saputra, “Manajemen Pelayanan Administrasi Di Dayah Modern Arun Kota Lhokseumawe,” Idarah (Jurnal Pendidikan Dan Kependidikan) 3, no. 1 (2019): 52–65.

[26] Makanan Dan et al., “PESANTREN PERKOTAAN DAN PERDESAAN and Rural Boarding School ) Islam Yang Mencetak Ahli Agama Islam ( Tafaqquh Pelayanan Yang Bersifat Tidak Berwujud ( Lupiyoadi ,” Ekonomica Sharia: Jurnal … 5, no. 2 (2021): 155–63.

[27] Dan et al., “PESANTREN PERKOTAAN DAN PERDESAAN and Rural Boarding School ) Islam Yang Mencetak Ahli Agama Islam ( Tafaqquh Pelayanan Yang Bersifat Tidak Berwujud ( Lupiyoadi ,.”

Komentar